PENGERTIAN & TUJUAN PSIKOTERAPI

Psikoterapi merupakan salah satu diantara metode intervensi. Istilah psikoterapi berasal dari dua kata yaitu “psiko” yang berarti kejiwaan atau mental dan “terapi“ yaitu penyembuhan. Prawitasari (dalam Ardani, Rahayu dan sholichatun, 2007) mengatakan bahwa psikoterapi adalah proses formal interaksi antara dua orang atau lebih, dengan salah satu berposisi sebagai “penolong” dan yang lainnya sebagai “yang ditolong” dengan tujuan perubahan atau penyembuhan.

Psikoterapi digambarkan oleh korchin (dalam Ardani, Rahayu, dan Sholichatun, 2007) sebagai penerapan teknik-teknik psikologi oleh seorang klinisi untuk mengakhiri pencarian perubahan kepribadian atau prilaku dari seorang clien. Corsini (dalam Ardani, Rahayu, dan Solichatun, 2007) disisi lain mengungkapkan psikoterapi sebagai suatu proses formal dan interaksi antara dua pihak. Setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang lebih dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan atau distress pada salah satu dari kedua pihak karena adanya ketidakmampuan atau malfungsi pada salah satu fungsi berikut : fungsi kognitif, afektif atau perilaku.

Definisi Frank (dalam Ardani, Rahayu, dan sholichatun, 2007) tentang psikoterapi adalah sebagai interaksi yang terencana antara seorang yang terlatih dan memiliki kewenangan social untuk melakukan terapi, dengan seorang yang menderita dengan tujuan untuk meringankan penderitaan si penderita melalui komunikasi simbolis khususnya kata-kata maupun aktifitas fisik.

Sedangkan definisi psikoterapi menurut Lewis r. Wolberg. Mo (1997) dalam bukunya yang berjudul the technique of psychotherapy mengatakan bahwa :“Psikoterapi adalah perawatan dengan menggunakan alat-alat psikologis terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang secara sengaja menciptakan hubungan profisional dengan pasien, yang bertujuan :

  1. Menghilangkan, mengubah atau menemukan gejala-gejala yang ada,
  2. Memperantarai (perbaikan) pola tingkah laku yang rusak, dan
  3. Meningkatkan pertumbuhan sertaperkembangan kepribadian yang positif”

Berdasarkan pada definisi-definisi tersebut, psikoterapi dapat disimpulan sebagai perawatan dengan menggunakan alat-alat psikologis terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang secara sengaja menciptakan proses formal dan hubungan profisional dengan pasien melalui interaksi yang terencana  antara dua orang atau lebih, dengan salah satu berposisi sebagai “penolong” (seorang yang terlatih dan memiliki kewenangan social untuk melakukan terapi) dan yang lainnya sebagai “yang ditolong”, atau dengan seorang yang menderita dengan tujuan perubahan, penyembuhan , menghilangkan, memperbaiki , mengubah atau menemukan  gejala-gejala yang ada (pola tingkah laku yang rusak), atau keadaan yang tidak menyenangkan atau distress pada salah satu dari kedua pihak karena adanya ketidakmampuan atau malfungsi pada salah satu fungsi (fungsi kognitif, afektif atau perilaku), melalui komunikasi simbolis khususnya kata-kata maupun aktifitas fisik dan Meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan kepribadian yang positif. Garis besar tujuan psikoterapi, sebelumnya telah disebutkan. Meskipun demikian perubahan, penyembuhan , menghilangkan, memperbaiki , mengubah atau menemukan  gejala-gejala yang ada, berkaitan dengan metode dan teknik yang digunakan oleh terapisnya dengan berdasarkan pada teori kepribadian yang melandasi pemberian terapi. Berikut ini akan dijelaskan bagaimana tujuan psikoterapi secara mendalam, antara lain:

  1. Menghilangkan atau mengubah tingkah gejala penyakit mental :
    1. Menghilangkan gejala (symptoms) yang ada, tujuan utama penyembuhan ialah menyingkirkan penderitaan pasien dan menghilangkan kerusakan akibat negative yang disebabkan adanya gejala-gejala tersebut.
    2. Mengubah gejala yang ada, seringkali ligkungan tertentu menghalangi dan tidak sesuai dengan keinginan penyembuhan secara sempurna. Dalam keadaan tertentu penyembuhan tidak dapat dilaksanakan, karena motivasi yang tidak sesuai, lemahnya kepribadian pasien, terbatasnya waktu atau keuangan. Hal ini membatasi keleluasaan pertolongan sehingga si ahli hanya mampu mengubah atau memodifikasikan gejala-gejala yang ada pada pasien yang tidak mampu menyembuhkannya.
    3. Menurunkan gejala yang ada, Ada beberapa bentuk penyakit emosional yang dapat berkembang pesat menuju kerusakan. Psikoterapi yang tepat sekalipun hanya mampu melayani untuk menghentikan, menurunkan atau memudarkan kembali proses kepesatannya, seperti pada tipe schizophrenia. Efek mengembalikan atau menurunkan kepesatan kerusakan penyakit tersebut seringkali dapat menolong pasien untuk kembali mampu mengadakan kontak dengan realitas.
    4.       Memperantai (perbaikan) tingkah laku yang rusak pada masa kini kita melihat kenyataan bahwa banyak permasalahan emosional dalam bidang pekerjaan, pendidikan, perkawinan, hubungan manusia, dan kehidupan kemasyarakatan. Hal ini merupakan rangsangan dan inspirasi untuk perluasan penggunaan psikoterapi dalam bidang psikologis, keguruan, pekerjaan social, agama, kepemimpinan, dan penegak hokum. Kenyataan merasuknya penyakit emosional kedalam struktur watak individu telah meluaskan tujuan psikoterapi, tidak sekedar mengurangi atau mengubah gejala menuju pada koreksi kerusakan pola hubungan manusiawi. Dalam hal ini ahli psikoterapi mampu menjadi perantara dalam mekanisme perubahan struktur watak individu.
    5.       Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif, Psikoterapi dapat digunakan sebagai alat untuk mematangkan kepribadian. Ini merupakan dimensi baru bagi psikoterapi. Pada satu pihak ia berhubungan dengan permasalahan kepribadian orang normal yang belum matang dan pada pihak lain ia menghadapi kesukaran karakterologi yang berhubungan dengan hambatan pertumbuhan yang memerlukan perawatan. Disini psikoterapi dapat membantu memecahkan rintangan yang menghambat perkembangan individu n agar dapat mengembangkan atau mendewasakan dirinya secara kreatif, bermakna, lebih produktif dan bermanfaat dalam hubungan dengan orang lain. Sasaran psikologi makin luas,tidak hanya memberikan pertolongan mengendalikan gejalagejala penyakit emosional, tetapi membebaskan potensi kejiwaan manusia yang dari gangguan neuritik yang dapat menghambat tujuan hidup dan merintangi perkembangan realisasi dirinya menuju kedewasaan psiklogis.

UNSUR DARI PSIKOTERAPI

Pendekatan kesehatan jiwa yang integratif menjadi hal yang sangat penting  ketika harus bekerja bersama orang-orang dengan beragam latar belakang kebudayaan. James & Prilleltensky mengambil suatu pendekatan transdisiplin dalam menyediakan suatu kerangka pemahaman dan peningkatan kesehatan jiwa dalam konteks keberagaman budaya, antara lain

  • Filosofis : Visi tentang kehidupan yang baik, orang yang baik, masyarakat yang baik. Agar dapat memahami bahwa nilai-nilai yang secara khusus membentuk sebuah konsep kesehatan mental, visi dari kehidupan dan masyarakat yang baik haruslah bisa diuji.
  • Seorang klien dapat ditanya apakah dia yakin terhadap gagasan liberal, individualisme dan determinasi diri; atau mereka cenderung menjunjung tinggi tradisi masyarakat dan perspektif kolektif. Seorang klien bisa jadi percaya bahwa “orang yang baik” tidak boleh menentang terapis yaitu seorang “pakar”,  sehingga dia tidak akan mau menyatakan bahwa bahwa terapi tersebut tidak ada berguna baginya. Pada budaya yang memandang suatu gangguan jiwa dengan stigma tinggi, “orang yang baik” mestinya tidaklah mencari bantuan kepada orang lain, apalagi ke rumah sakit. Suatu “keluarga yang baik” bisa jadi keluarga dimana masalah-masalah tidak didiskusikan secara terbuka, apalagi dengan orang lain, dan sudah tentu, dengan orang asing, misalnya terapis.
  • Kontekstual : persoalan-persoalan yang terjadi di daerah dimana masyarakat tertentu menetap/ tinggal. Keterlibatan ilmuwan social semakin tinggi apabila mereka berusaha untuk memahami kondisi sscial ekonomi, budaya dan politik dari suatu masyarakat dan bagaimana faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka.
  • Norma sosial dan budaya : pada suatu waktu, masalah-masalah sosial hanya ditangani pada tingkat individu saja, dan tidak melibatkan masyarakat. Bantuan ditawarkan pada orang-orang yang mengalami penganiayaan atau kekerasan dalam bentuk terapi individu. Namun saat ini masalah sosial mulai ditangani dalam tingkat masyarakat. Contoh intervensi tingkat masyarakat misalnya intervensi komunitas untuk pencegahan kekerasan.

Sangatlah jelas bahwa bahasa berakar dari konteks. Pada satu konteks, sebuah ekspresi misalnya “ada semut dalam otakku” bisa berarti sebuah delusi. Namun pada masyarakat lain bisa menjadi hanya sebuah kata-kata biasa.

  • Norma Religi/agama : padangan tentang Penyelamatan Dari Penderitaan. Model pendekatan medis sendiri menyatakan bahwa penderitaan tidak ada artinya apa-apa. Namun pandangan religius percaya bahwa penderitaan akan menguatkan ikatan dengan sesama dan dengan Tuhan. Dalam kasus ini, penderitaan adalah kendaraan untuk berkomunikasi.
  • Norma moral : persepsi individu terhadap apa artinya menjadi “orang yang baik” dan “keluarga yang baik”.  Contohnya : dengan kerangka psikoanalisis, seorang yang baik adalah orang yang bisa mengutarakan perasaannya, asertif, mandiri dan penuh pemahaman. Sehingga dengan pendekatan tersebut, terapis sering menjadi frustasi dengan penolakan klien untuk mengisi kuesioner atau aktivitas terapeutik lainnya, dimana hal tersebut bisa saja disebabkan karena hambatan dalam hal bahasa atau perbedaan budaya.

Dalam menyediakan pelayanan untuk masyarakat dengan berbagai budaya, sangatlah penting untuk mempertimbangkan semua aspek dari komunikasi verbal dan non-verbal sehingga dapat menghindari kesalahpahaman dan konflik. Salah paham dapat terjadi bahkan pada orang yang mempunyai bahasa yang sama.

Komunikasi non-verbal telah dipelajari pada masa dini kehidupan, kebanyakan adalah hasil imitasi dan asimilasi. Sehingga seringkali orang tidak menyadari tanda-tanda dari komunikasi non-verbalnya muncul. Kita hanya menjadi sadar kalau terjadi kesalah pahaman. Misalnya :

  • Ruang : berdiri dalam jarak terlalu dekat bisa membuat orang lain tidak nyaman dan merasa adanya agresivitas atau keintiman (tergantung situasinya). Berdiri terlalu jauh bisa menunjukkan ketidakpedulian.
  • Sentuhan : suku-suku tertentu lebih “gemar bersentuhan” dibanding yang lain. Sehingga sentuhan bisa dipahami sebagai cara membuat suatu hubungan yang baik atau justru mengakibatkan adanya rasa tidak nyaman dan reaksi negatif.
  • Berjabat tangan : jabat tangan yang erat menandakan adanya ketulusan atau kejujuran namun bisa jadi suatu tanda agresivitas. Jabat tangan yang lembut bisa dipahami sebagai sikap tubuh yang yang damai, tapi juga bisa menunjukkan kurangnya komitmen atau minat. Dalam beberapa budaya, bersalaman dengan jenis kelamin lain tidak diterima.
  • Diam : Individu yang berasal dari budaya tertentu cenderung merasa tidak nyaman ketika kelompoknya diam. Namun dalam budaya lain, perilaku tersebut diterima dan bahkan menunjukkan kemampuan refleksi diri serta menghormati orang lain. Dalam budaya seperti ini, orang yang tidak bisa diam/banyak bicara dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.
  • Kontak mata : membuat suatu kontak mata bisa menunjukkan adanya suatu kejujuran atau minat. Namun dalam budaya tertentu menghindari kontak mata justru menjadi tanda bahwa orang tersebut menghormati lawan bicaranya.
  • Senyum dan tawa : senyum dan tawa dapat dimaknai secara berbeda. Bisa menjadi tanda kebahagiaan dan kesenangan, terkejut, malu, marah, kebingungan, permintaan maaf, atau bahkan kesedihan. Hal tersebut tergantung pada budaya masing-masing.
  • Bahasa tubuh dengan tangan, lengan dan kaki : bahasa tubuh mempunyai makna yang berbeda-beda. Berkacak pinggang bisa berarti posisi siap untuk mempertahankan diri; tangan yang masuk saku atau menunjuk dengan jari telunjuk bisa dianggap tidak sopan; menunjukkan telapak kaki atau sepatu bisa dianggap penghinaan.

Aliansi Nasional untuk Gangguan Jiwa (NAMI/ National Alliance for Mental Illness) menyarankan adanya langkah-langkah di bawah ini untuk merangkul berbagai budaya yang beragam dalam tujuan untuk menjamin adanya suatu akses yang  setara untuk pendidikan dan pengobatan.

  1. Mengidentifikasi kelompok sasaran : bila kelompok sudah diidentifikasi, segeralah belajar mengenai karakteristik dan sejarah kelompok tersebut. Menyelenggarakan riset terhadap keyakinan kelompok tersebut mengenai gangguan jiwa sangatlah berguna.
  2. Mengindentifikasi pemimpin atau tokoh masyarakat setempat : Lakukan pendekatan terhadap tokoh masyarakat dan ajaklah untuk berperan / menjadi partner dapat menggambarkan kebutuhan masyarakat setempat dan sekaligus merangkul masyarakat. Karena keberadaan mereka sangat dihormati masyarakat, mereka akan bisa memfasilitasi akses, kepercayaan, dan perhatian dari masyarakat terhadap program Anda.
  3. Mengidentifikasi organisasi masyarakat yang sudah ada : bekerja sama dengan organisasi masyarakat yang besar bisa menjadikan suatu kekuatan terpadu yang dapat meningkatkan kemungkinan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
  4. Memutuskan fokus utama dari aktivitas : Dalam menunjukkan suatu aktivitas, kita bisa dibantu dengan beberapa metode, misalnya pamflet dan buklet dengan bahasa setempat, membentuk support group yang spesifik dalam masyarakat, meningkatkan adanya anggota yang beragam, dan pendekatan terhadap instansi pemerintah untuk meningkatkan pendanaan untuk pelayanan kesehatan jiwa untuk masyarakat yang spesifik.
  5. Penyebaran dan publisitas : bekerja dengan organisasi masyarakat, misalnya organisasi agama, kesukuan, sekolah, remaja klinik atau organisasi lainnya. Buatlah kan sebuah konferensi press, pengumuman adanya pelayanan, atau artikel di koran dan tekankan pada adanya kerja atau pelayanan yang sesuai dengan budaya setempat.

PENDEKATAN PSIKOTERAPI TERHADAP MENTAL ILLNESS

Perubahan seperti apa yang akan diraih oleh suatu proses psikoterapi, biasanya berhubungan dengan metode dan teknik yang digunakan oleh terapisnya, berdasarkan pada teori kepribadian yang melandasi pemberian terapi. Berikut ini akan dijelaskan berbagai pendekatan menurut dua tokoh yaitu Ivey dkk dan Corey terhadap mental ilness adalah sebagai berikut:

  • Tujuan psikoterapi psikodinamika menurut Ivey adalah membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sistesis yang baru dari konflik-konflik yang lama. Corey mengatakan tujuan psikoterapi menurut psikodinamika sebagai membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
  • Ivey menggambarkan tujuan psikoterapi Rogerian adalah untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang agar dapat menemukan dirinya sendiri yang nyata dan ideal; mengeksploitasi emosi yang majemuk; memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik. Corey disisi lain menggambarkan tujuan psikoterapi Rogerian sebagai pemberian suasana aman dan bebas agar klien mengeksplorasi diri dengan enak sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat untuk memungkinkan berkembang kearah keterbukaan , memperkuat percaya diri, kemauan melakukan sesuatu dan meningkatkan spontanitas dalam hidupnya.
  • Pendekatan eksistensian humanistic dirumuskan tujuannya oleh Ivey sebagai proses untuk menemukan arti dan melakukan tindakan, menyadarkan hal-hal yang azazi pada manusia tentang pemilihan, keterlibatan diri dan kecemasan serta mengembangkan aspek-aspek dalam dirinya dalam mencapai kematangan. Corey menyatakan tujuan pendekatan eksistensial humanistic sebagai upaya untuk membantu seseorang mengetahui bahwa ia punya kebebasan dan menyadari kemungkinan-kemungkinan yang dimilikinya untuk merangsang mereka mengenali bahwa mereka bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian yang mereka piker terjadi pada mereka sebelumnya dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat kebebasan.
  • Pendekatan behavioristik menurut corey bertujuan secara umum untuk menghilangkan perilaku yang tidak sesuai dan mempelajari perilaku yang efektif. Ivey menyatakan tujuan psikoterapi behavioristik sebagai upaya untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berprilaku senta untuk menggantikan dengan pola-pola perilaku yang sesuai. Sehubungan dengan terapi behavioristik ini ivey menjelaskan tujuan terapi kognitif behavioristik yaitu untuk menghilangkan cara berfikir menyalahkan diri, mengembangkan cara memandang lebih rasional dan toleran terhadap diri dan orang lain, selanjutnya berperilaku nyata berdasarkan cara berfikir seperti itu. Corey merumuskan tujuan terapi kognitif behavioristik sekaligus rasional omitif yaitu untuk menghilangkan cara pandang klien yang menyalahkan diri dan membantunya memperoleh pandangan dalam hidup yang lebih rasional dan toleran untuk memcahkan masalah emosi dan perilaku dalam kehidupan selanjutnya.
  • Pendekatan gestalt menurut Ivey bertujuan agar seseorang lebih menyadari kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang. Sedangkan Corey menyatakan tujuan pendekatan gestalt yaitu untuk membantu klien memperoleh pemahaman mengenai pengalamannya untuk merangsang menerima tanggung jawab dari dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungan terhadap ndorongan-dorongan dari luar.
  • Pendekatan terakhir adalah pendekatan terapi realitas ( salah satu bentuk terapi kognitif)yang menurut Ivey bertujuan untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa campur tangan orang lain agar mampu menemukan keputusan yang bertanggungjawab dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akibat-akibat tindakan tersebut. Corey merumuskan tujuan terapis realitas yaitu untuk membantu seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya serta merangsang untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa seberapa jauh tindakannya dapat berhasil.

PSIKOTERAPI  &  KONSELING

Adanya pengertian & konsep yang tumpang tindih antara psikoterapi & konseling yang sulit dihindari, maka dewasa ini kedua istilah ini seringkali muncul bersama. Namun secara umum, persamaan & perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut :

Persamaan :

  • dasar : teori, metode & data ilmiah yang telah dikaji secara empirik (observasi, wawancara, test, teori2)
  • teknik2 ilmiah : pembicaraan, latihan2
  • aturan : biaya, waktu, tempat, alat2,

Perbedaan

Konseling

Psikoterapi
< intensif > intensif
preventif Kuratif / reapartif
Fokus : edukasi, vocational, perkembangan Fokus : remedial
Setting : sekolah, industri, social work, Setting : rumah sakit, klinik, praktek pribadi,
Jumlah intervensi < Jumlah intervensi >
supportive rekonstructive
Penekanan “normal”

/ masalah ringanPenekanan “disfungsi” / masalah beratShort termLong term

Corsini :

Teknik2 / proses2 secara kualitatif sama, tetapi secara kuantitatif berbeda

Persentase waktu yang digunakan oleh konselor & psikoterapis dalam aktivitas profesionalnya :

Proses

Konseling (%)

Psikoterapi (%)

listening 20 60
questioning 15 10
evaluating 5 5
interpreting 1 3
supporting 5 10
explaining 15 5
informing 20 3
advising 10 3
ordering 9 1

 Tujuan yang ingin dicapai dalam psikoterapi biasanya meliputi beberapa aspek dalam kehidupan manusia. Sehingga secara lebih rinci tujuan psikoterapi meliputi :

  1. Memperkuat motivasi untuk melakukan hal-hal yang benar (nasehat sederhana, persuasi, direktif, suportif, hipnosis)
  2. Mengurangi tekanan emosi melalui kesempatan untuk mengeksperisikan perasaan yang mendalam
  3. Membantu klien mengembangkan potensinya
  4. Mengubah kebiasan kurang bermanfaat menjadi kebiasaan yang lebih bermanfaat
  5. Mengubah struktur kognitif individu guna menyesuaikan dengan kondisi yang ada
  6. Meningkatkan  pengetahuan dan kapasitas untuk mengambil keputusan dengan tepat
  7. Meningkatkan pengetahuan diri atau insight
  8. Meningkatkan hubungan antar pribadi
  9. Mengubah lingkungan social indivdu
  10. Mengubah proses somatic supaya mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kesadaaran tubuh. Contoh latihan relaksai, yoga, tari, dan senam dapat digunakan untuk mengendalikan ketegangan tubuh
  11. Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran , control, dan kreativitas diri.  Pengetahuan tentang psikoterapi sangat berguna untuk;
    1. membantu penderita dalam memahami dirinya , mengetahui sumbersumber psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri serta memberikan perspektif masa depan yang lebih cerah dalam kehidupan jiwanya
    2. membantu penderita dalam menentukan langkahlangkah praktis dan pelaksanaan terapinya. Diakui atau tidak, banyak seseorang yang sebenarnya mengidap penyakit jiwa, namun ia tidak sadar akan sakitnya, bahkan ia tidak mengerti dan memahami bagaimana seharusnya yang diperbuat untuk menghilangkan penyakitnya. Karenanya dibutuhkan pengetahuan tentang psikoterapi bagi guru, mubaligh, tokoh agama, maupun orang-orang yang terlibat dengan kegiatan social  .

BENTUK TERAPI

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, psikoterapi dibedakan atas:

  • Psikoterapi Suportif:

             Tujuan:

  • Mendukung funksi-funksi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada
  • Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.
  • Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.

   Cara atau pendekatan: bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.

  • Psikoterapi Reedukatif:

Tujuan: Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan. Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.

  • Psikoterapi Rekonstruktif:

Tujuan : Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.

Cara atau pendekatan: Psikoanalisis klasik dan Neo-Freudian (Adler, Jung, Sullivan, Horney, Reich, Fromm, Kohut, dll.), psikoterapi berorientasi psikoanalitik atau dinamik.

  1. Menurut “dalamnya”, psikoterapi terdiri atas:
  2. ”superfisial”, yaitu yang menyentuh hanya kondisi atau proses pada “permukaan”, yang tidak menyentuh hal-hal yang nirsadar atau materi yangdirepresi.
  3. “mendalam” (deep), yaitu yang menangani hal atau proses yang tersimpan dalam alam nirsadar atau materi yang direpresi.
    1. Menurut teknik yang terutama digunakan, psikoterapi dibagi menurut teknik perubahan yang digunakan, antara lain psikoterapi ventilatif, sugestif, katarsis, ekspresif, operant conditioning, modeling, asosiasi bebas, interpretatif, dll.
    2. Menurut konsep teoretis tentang motivasi dan perilaku, psikoterapi dapat dibedakan menjadi: psikoterapi perilaku atau behavioral (kelainan mental-emosional dianggap teratasi bila deviasi perilaku telah dikoreksi); psikoterapi kognitif (problem diatasi dengan mengkoreksi sambungan kognitif automatis yang “keliru”; dan psikoterapi evokatif, analitik, dinamik (membawa ingatan, keinginan, dorongan, ketakutan, dll. yang nirsadar ke dalam kesadaran). Psikoterapi kognitif dan perilaku banyak bersandar pada teori belajar, sedangkan psikoterapi dinamik berdasar pada konsep-konsep psikoanalitik Freud dan pasca-Freud.
    3. Menurut setting-nya, psikoterapi terdiri atas psikoterapi individual dan kelompok (terdiri atas terapi marital/pasangan, terapi keluarga, terapi kelompok)
    4. Terapi marital atau pasangan diindikasikan bila ada problem di antara pasangan, misalnya komunikasi, persepsi,dll.
    5. Terapi keluarga, dilakukan bila struktur dan fungsi dalam suatu keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bila salah satu anggota keluarga mengalami gangguan jiwa, akan mempengaruhi keadaan dan interaksi dalam keluarga dan sebaliknya, keadaan keluarga akan mempengaruhi gangguan serta prognosis pasien. Untuk itu seluruh anggota keluarga diwajibkan hadir pada setiap sesi terapi.
    6. Terapi kelompok, dilakukan terhadap sekelompok pasien (misalnya enam atau delapan orang), oleh satu atau dua orang terapis. Metode dan caranya bervariasi; ada yang suportif dan bersifat edukasi, ada yang interpretatif dan analitik. Kelompok ini dapat terdiri atas pasien-pasien dengan gangguan yang berbeda, atau dengan problem yang sama, misalnya gangguan makan, penyalahgunaan zat, dll. Diharapkan mereka dapat saling memberikan dukungan dan harapan serta dapat belajar tentang cara baru mengatasi problem yang dihadapi.
      1. Menurut nama pembuat teori atau perintis metode psikoterapeutiknya, psikoterapi dibagi menjadi psikoanalisis Freudian, analisis Jungian, analisis transaksional Eric Berne, terapi rasional-emotif Albert Ellis, konseling non-direktif Rogers, terapi Gestalt dari Fritz Perls, logoterapi Viktor Frankl, dll.
      2. Menurut teknik tambahan khusus yang digabung dengan psikoterapi, misalnya narkoterapi, hypnoterapi, terapi musik, psikodrama, terapi permainan dan peragaan (play therapy), psikoterapi religius, dan latihan meditasi.
      3. Yang belum disebutkan dalam pembagian di atas namun akhir-akhir ini banyak dipakai antara lain: konseling, terapi interpersonal, intervensi krisis.

http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/fullchapter/06110168-mahmudi.pdf

http://kk.mercubuana.ac.id/files/61034-8-243521543026.doc

http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/13988/pengantr-fix.doc

http://xa.yimg.com/kq/groups/20899393/125933547/name/Psikoterapi.doc

http://www.rsjlawang.com/artikel_080512a.html