Ketika saya sedang iseng-iseng membaca surat kabar, saya tertarik dan mata saya tertuju pada suatu tulisan yang berjudul peran ayah dalam pendidikan, terutama pendidikan anak. Sesuai dengan judulnya, isi tulisan lebih berfokus pada peran ayah. Tak dipungkiri lagi bahwa dalam dunia yang semakin modern ini, peran ayah sering terfokus kepada pemenuhan kebutuhan keluarga, terutama segi finansial. Kehilangan waktu bercengkrama bersama keluarga termasuk mendampingi anak belajar menjadi hal biasa di tengah kesibukan yang luar biasa.
Sekarang ini masih banyak kaum ayah beranggapan bahwa memandikan bayi, mengganti popok, member mereka makan, serta mengajak berjalan-jalan bukanlah hal yang patut dilakukan kaum pria. Selain itu banyak pula kaum wanita yang masih mempunyai anggapan bahwa merawat bayi adalah tugas mereka dan mereka sama sekali tidak mendukung, apalagi menganjurkan kerterlibatan ayah dalam hal ini. Suatu penelitian membuktikan bahwa ikut sertanya ayah dalam merawat bayinya akan merupakan pengelaman unik yang berharga bagi seorang anak. Apabila sejak semula ayah ikut serta secara aktif merawat bayinya, mereka akan merasakan manfaat dari hubungan erat ini sampai si anak dewasa. Sejak Sigmund Freud mencanangkan teori Psikoanalisis untuk pertama kalinya pada awala abad ke-20 ini, ia sudah menyatakan bahwa perkembangan kepribadian anak, khususnya sewaktu balita sangat ditentukan oleh tokoh ayahnya. Ayah yang membentuk superego anak. Ayah adalah tokoh identifikasi. Ayah merupakan tokoh otoriter yang sekaligus ditakuti dan dibutuhkan anak, dan sebagainya (Sobur, 1986: 21).
Dalam pandangan anak-anak, tokoh ayah merupakan laki-laki pertama di dunia ini, yang dikenalnya secara lahir batin. Sejak mereka lahir, mereka merasakan adanya figure laki-laki di mana ia harus memanggil laki-laki tersebut sebagai “bapak” atau sebagai “ayah”. Secara tidak disadari, figure ayah dalam keluarga, dalam sudut pandangan anak-anak merupakan sosok laki-laki ideal-type pertama yang mereka kenal. Maka dengan sendirinya seorang laki-laki yang kebetulan menjadi kepala keluarga, tanpa disadari pula telah menempatkan dirinya sebagai figure yang patut dihormati dan diteladani (Sobur, 1986: 21-22)

Dari penjabaran di atas, terbukti bahwa peran ayah dalam keluarga sangat penting. Hal ini juga termasuk dalam peran ayah dalam pendidikan anak. Seperti yang saya kutip dari harian KOMPAS bahwa :
Faktanya, menurut National Parent Teacher Association (2002), berdasarkan penelitian selama 30 tahun terakhir, peran ayah turut aktif dalam pendidikan anak yang krusial. Sebagai contoh, mereka yang ayahnya turut aktif sebagai pendamping belajar akan memperoleh prestasi belajar yang lebih tinggi, kehadiran sekolah lebih tertib, aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan, dan bersikap lebih positif
terhadap sekolah. McAdoo (2002) dalam artikel “Peranan Ayah Dalam Pendidikan Anak dan Hubungannya Dengan Prestasi Belajar nya, yang ditulis Slameto (dosen UKSW Salatiga, 2003) di tahun 2003, mengamati lima peranan ayah dalam edukasi anak.
Pertama peran ayah adalah provider, artinya sebagai penyedia dan pemberi fasilitas. Dalam keonteks pendidikan, jelas ayah bekerja sekuat tenaga demi mencukupi kebutuhan pokok maupun penunjang prestasi anak, seperti buku, alat tulis, perlengkapan sekolah, bahkan les tambahan.
Peran kedua, ayah memberikan perlindungan (protector). Member perlindungan disini bukan hanya berarti mengayomi anaknya, tetapi juga memberikan pemahaman dan pengertian apa yang boleh atau tidak boleh anak lakukan. Contohnya ayah memaparkan hal menyontek untuk mendapakan nilai baik adalah perbuatan yang salah. Beri pengertian pada anak bahwa orangtua meresa bangga bukan saat anak mendapat nilai bagus saja tetapi justru saat mereka jujur.
Peran ketiga sebagai Decision maker. Disini ayah membantu anak untuk mengatasi kesulitan dalam belajar. Berikan motivasi dan dorongan agar anak tidak merasa sendiri untuk berjuang. Sebaiknya ayah membantu anaknya untuk anaknya untuk mulai mengambil keputusan sendiri.
Peran keempat sebagai child specialize and educator , yang membimbing anak untuk bersosialisasi dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Namun kenalilah juga teman anak agar tidak terjerumus dalam lingkungan “sesat”.
Kemudian peran ayah yang kelima adalah nurtured mother. Sebagai pendamping ibu, disarankan ayah selalu berdiskusi dan membantu ibu dalam permasalahan pendidikan anak.

Setelah saya membaca peran-peran ayah tersebut, maka paradigma saya tentang peran ayah yang tak hanya sekedar sebagai pemberi nafkah keluarga. Dalam kondisi sekarang, saya jarang menemukan perah ayah yang disebutkan oleh Slameto, karena seorang ayah terlalu sibuk dengan pekerjaanya, sehingga tidak ada waktu untuk anaknya. Berangkat pagi pulang malam dan seterusnya, jika hari liburpun kadang seorang ayah masih sibuk dengan urusan kantornya. Anak biasanya di kontrol oleh ibu, karena ibu lebih identik dengan urusan rumah tangga. Padahal anak pun membutuhkan figur ayah dalam perkembangan hidupnya.

REFERENSI:
Sobur alex.1985.Koms_hidden=1unikasi Orang Tua dan Anak.Bandung:Angkasa