Istilah tersebut pernah saya lihat di graffiti atau saya pernah dengar dari para bomber (pembuat graffiti). Tapi istilah tersebut sangat bertolak belakang dengan realitanya. Bagi sebagian orang tua, mereka menilai graffiti sebagai seni yg melanggar hukum karena dituangkan dalam media tembok rumah seseorang, atau juga merusak pemandangan. Graffiti juga memiliki reputasi yang cukup buruk di mata pemerintah hampir di seluruh negara, karena graffiti dituduh sebagai media yg paling frontal untuk menghujat / mengkritik secara keras sebuah pemerintahan di sebuah negara.

Grafiti menurut wikipedia adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Diantara bentuk-bentuk atau macam-macamnya gambar tersebut ada yang bernama stencil. Stencil graffiti bisa disebut sebagai teknik copypaste atau tekik jiplak dan biasanya berbentuk muka seseorang, hewan, atau benda-benda yang ada disekitar. Kelebihan dari stencil ini adalah karya dengan bentuk yang sama bisa dibuat berkali-kali di tempat yang berbeda-beda. Tinggal menempelkan kertas yang sudah distensil ke permukaan dimana kita ingin menaruh gambarnya, kemudian semprot dengan spray paint atau roll on, maka jadilah stencil graffiti. Kecepatan ini juga menjadi keunggulan tersendiri untuk stencil grafiti. Tadinya stencil graffiti hanya bisa diaplikasikan untuk satu warna saja, namun kini dengan teknik layer, stencil graffiti bisa diaplikasikan dalam beberapa warna. berikut ini contoh stencil yang saya buat:

Dalam psikologi perkembangan, kegiatan graffiti dimulai dari masa remaja. Dimana ada 4 perubahan yang hampir bersifat universal pada masa remaja,yaitu:
1. Meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi.
2. Perubahan tubuh, minat, dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial yang akhirnya dapat menimbulkan masalah baru. Masalah baru yang timbul tampaknya lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan dengan masalah yang dihadapi sebelumnya. Sehingga akhirnya ia sendiri menyelesaikan menurut kepuasanya.
3. Dengan berubah minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Sekarang mereka mulai mengerti bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas.
4. Sebagian remaja bersikap ambivalent terhadap setiap perubahan. Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan, tetapi mereka sering takut untuk bertanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut.
Perubahan yang dialami remaja yang satu dengan yang lainnya sangat berbeda, tergantung pada individu dan lingkungannya. Misalnya minat dan hobi mereka lebih cenderung terhadap kesenian. Maka untuk meluapkan emosi,kekesalan atau pelarian terhadap masalah yang sulit untuk diselesaikan, mereka membuat suatu gambar atau graffiti sehingga mereka puas dan tekanan yang ada didirinya berkurang. Menurut saya, seni graffiti bukan kriminalitas karena belum ada peraturan atau undang-undang yang melarang kegiatan tersebut dan graffiti justru memperindah tempat yang kusam ataupun kumuh, menambah nilai estetika disuatu daerah. Sebenarnya jika lahan graffiti disediakan oleh pemerintah, saya yakin para bomber tidak akan ngebom di sembarang tempat. Yang di butuhkan hanya komitmen kedua balah pihak, tapi sangat susah untuk mewudkan hal tersebut karena pemerintah selalu sibuk dengan politik dan kekuasaan, mereka kurang peduli terhadap remaja yang sebenarnya masih perlu bimbingan, perhatian dan menjadi penentu bangsa dimasa depan. jika dilihat flashback pada masa prasejarah dimana manusia belum mengenal tulisan, gambar dan symbol adalah bentuk komunikasi antar sesama manusia. Graffiti ini adalah bentuk karya lukis yang berkembang dizaman sekarang. Dimana pada zaman penjajahan, lukisan atau kesenian hanya bisa dinikmati oleh kalangan ningrat ataupun kaum borjuis, berbeda dengan sekarang, dimana kesenian bisa dinikmati oleh semua kalangan atau strata sosial apapun. Apabila graffiti terus dikembangkan maka akan menjadi sesuatu yang memiliki nilai yang tinggi, seperti misalnya membuat desain batik dari graffiti. Batik tersebut bisa masuk dalam desain batik modern, atau juga bisa menjadi tema dalam setiap gedung yang mempunyai ciri tersendiri, ataupun media untuk bidang apapun. Kesimpulannya MAKE ART NOT CRIME DAN LESTARIKAN BUDAYA GRAFFITI.

REFERENSI:
Hurlock Elisabeth B.Psikologi Perkembangan edisi 5.Jakarta:Erlangga
http://id.wikipedia.org/wiki/Grafiti