Setelah saya membaca surat kabar yang dikeluarkan kompas ternyata kesehatan mental perawat kesehatan mental dapat terganggu. Tragedi penembakan membabi buta di Markas Angkatan Darat AS Fort Hood, Texas, Kamis(5/11), dilakukan olehMayor Nidal Malik Hasan (39) dikarenakan faktor dari gangguan kesehatan mental.
faktor utama stress yang dialami Mayor Nidal Malik Hasan (39), yang dari waktu ke waktu menghadapi prajurit korban perang di luar AS serta perlakuan tidak adil sebagai warga Muslim AS, diyakini sebagai di balik aksi yang menewaskan 13 orang itu. Sebelumnya Hasan yang tinggal sendirian menceritakan kepada keluarganya sebuah insiden, orang melemparkan popok sekali pakai ke kediamannya, dengan tulisan “Ini untuk tutup kepala anda”, mengacu pada tutup kepala (peci) yang biasa digunakan warga Muslim. Seseorang juga pernah mencorat-coret mobil Hasan, dengan gambar seekor unta di bagian mobilnya dan kemudian tulisan melintang “Joki Unta”, sebuah ungkapan rasis terhadap warga keturunan Arab. Tekanan yang dialami Hasan menjadi semakin tak tertahankan dengan adanya perintah penugasan ke Afganistan, atau Irak, untuk memerangi rakyat Muslim. Hasan selalu menganggap perang melawan terorisme sebagai “perang melawan Islam”. Karena itu, dia menolak perang di Negara-negara Islam. Rafik Ahmad, paman Nidal Hasan mengungkapkan, Hasan beberapa kali dilecehkan oleh tentara AS lainnya karena agama Islam yang dianutnya, tetapi dia tidak marah.
Dr Val Finnell yang pernah berkuliah bersama Hasan pada 2007-2008 tidak terkejut dengan tindakan Hasan. Semasa kuliah di Akademi Militer Uniformed Services University of the Health Sciences di Bethesda, Hasan sering mengeluh tentang sentiment anti-Muslim di kalangan militer AS. “Sistem tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” kata Finnell, yang pernah mengeluhkan kepada petugas soal sikap “anti-Amerika” yang menghinggapi Hasan.
Tim Murphy dari Pennsylvania, seorang psikolog di pasukan cadangan Angkatan Laut AS, mengatakan, kerusakan mental yang di alami Hasan itu sering dikatakan sebagai trauma mendalam karena dia seolah-olah mengalami sendiri pengalaman pasiennya.“Mereka mungkin tidak melihat langsung pertempuran, tetapi mereka melihat dari hasil pemeriksaan itu dan mereka terus mendengar berbagai cerita mengenai pertempuran itu dari pagi hingga malam. Cerita-cerita itu menjadi suatu yang nyata ketika anda berhadapan dengan berbagai kesulitan yang dihadapi orang setiap hari,” jelasnya.
“Para Psikiater bekerja dan menghabiskan dengan banyak orang ketimbang menghabiskan waktu untuk diri sendiri. Mereka makin tertekan terkait dengan jumlah pasien,” tambah Dr Layton McCurdy, seorang psikiater dan mantan dekan di Medical University of South Carolina.
Para dokter terus menerus menghadapi para tentara dengan kondisi stress pascatrauma. Dr Allen Taylor, seorang ahli jantung di Walter Reed Army Medical Center, mengatakan, keadaan itu bisa membuat petugas seperti mengalami langsung derita pasien. “inilah waktunya untuk melakukan sejumlah introspeksi. Siapa yang memperhatikan kondisi perawat kesehatan?” tegas Taylor.
Matthias Chiroux, seorang mantan sersan Angkatan Darat Ad AS yang menolak pergi ke Irak, menguraikan, apa yang terjadi adalah mimpi buruk yang belum sepenuhnya terlihat. Sekitar 20 persen dari lebih dari 1,6 juta tentara AS yang bertempur di Irak dan Afganistan menderita stress pascatrauma (post traumatic stress disorder/PSTD).

REFERENSI:
Koran Kompas, Senin 9 November 2009