mengajak mereka ketitik nol

Untuk menyembuhkan trauma anak-anak pasca gempa Sumatra Barat dan agar mental anak-anak tidak terganggu, pihak Tim Reaksi Cepat atau biasa di singkat (TRC) Departemen Sosial membuat tenda darurat dan dijadikan semacam Children Center. Tenda didirikan seluas 75 meter di sebuah halaman masjid pinggir jalan, tepatnya di Kabupaten Padang Pariaman. Tenda tersebut mengadakan banyak kegiatan, seperti menggambar, permainan-permainan dan kegiatan ringan yang lainnya. Seorang anak bernama Waldi (korban gempa) mengatakan “ dia belum berani masuk sekolah karena takut terjadi gempa lagi.” Dan sebagian anak-anak lebih suka berada di tenda daripada dirumah, bahkan sebagian dari mereka tidur ditenda. Hal ini dimungkinkan karena mereka sependapat dengan Wandi yang takut terjadi gempa lagi. Dan menurut relawan yang berada di tenda mengatakan, ini bukan pekerjaan yang sangat mudah. Para relawan berusaha keras untuk mencerahkan suasana, membuat anak-anak gembira. Walaupun para relawan sudah bekerja ekstra, tetapi masih ada sebagian anak yang masih trauma, mimik muka khawatir mereka terlihat jelas ketika mendengar suara atau bunyi-bunyian. Fenomena yang terjadi bukan hanya itu, masih banyak anak-anak yang mengemis di jalan-jalan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak punya peluang untuk mendapat pekerjaan selain mengemis untuk kebutuhan sehari-hari. Sejauh ini pihak koordinasi lapangan sudah melapor ke Pemda setempat dan Pemda setempat belum bisa berbuat banyak karena distribusi yang belum tersalur secara merata.
Selain peduli terhadap anak, Kegiatan TRC juga mengarah pada penanganan penyandang cacat dan lansia, khususnya yang menjadi korban gempa. Untu penanganan lansia, TRC depatemen Sosial bekerja sama dengan Yayasan Emong Lansia yang mendapat dukungan dari lembaga internasional Help Age International. Saat ini menurut ketua Yayasan Emong Lansia, Eva A.J. Kebanyakan para lansia yang masih mempunyai tempat tinggal, sepertinya lebih efektif jika diberi bantuan berupa uang tunai. Selanjutnya mereka berencana melakukan pemberdayaan masyarakat dengan melatih ibu-ibu untuk menjadi pendamping lansia atau care given.
Selain untuk menyembuhkan trauma anak, Kasubag Humas Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Depsos, Juaedi Sitepu, menjelaskan, Tim Reaksi Cepat dibentuk untuk membantu trafficking dan menghadai masalah hukum. Nahar (34), koordinator lapangan mengatakan, “Dia dan Tim Reaksi Cepat berusaha dan berupaya untuk mengembalikan aktivitas keseharian mereka dan kita harapkan mereka kembali ke titik nol, ke situasi sebelum terjadi bencana, kita ajak mereka belajar sambil bermain.”

Para relawan ingin menyehatkan kembali mental para korban gempa Sumatra barat, yaitu dngan mengadakan kegiatan-kegiatan positif seperti menggambar, permainan-permainan dan kegiatan ringan yang lainnya yang diberikan oleh Tim Reaksi Cepat untuk menyembuhkan trauma korban pasca gempa Sumatra barat adalah benar. Para Relawan memberi permainan-permainan seperti adu ketangkasan, sepakbola,dll agar para korban kembali ceria, melupakan kecemasan,rasa tegang, kesukaran-kesukaran, tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan, pertentangan batin dan melupakan kejadian gempa yang mereka alami. Mereka (korban gempa) juga diajarkan untuk menyesuaikan diri di lingkungan pasca gempa, diajarkan untuk saling tolong-menolong, dll.

REFERENSI:
koran republika