Setiap usaha besar yang dikerjakan oleh individu pasti mempunyai tujuan dan karena itu tidak akan dikerjakan dengan sembarang cara. Cara tersebut bisa dikatakan sebagai strategi atau metode yang memungkinkan kita mencapai tujuan tersebut. Metode berasal dari bahasa Yunani “methodos” yang merupakan kombinasi dari kata meta (melalui) dan hodos (jalan). Jadi metode adalah jalan yang kita lalui untuk mencapai tujuan. Banyak usaha tidak dapat berhasil atau pasti tidak dapat membuahkan hasil optimal jika tidak dipakai metode yang tepat. Dengan memakai metode, usaha kita menjadi terarah, sedangkan tanpa metode kita membabi buta saja. Tidak dapat diragukan bahwa jika kita selaku mahasiswa yang ingin berhasil di perguruan tinggi, kita harus memakai suatu metode.

Untuk menggunakan suatu metode, kita harus melihat dulu tujuan kita saat kita masuk perguruan tinggi. Mula-mula tujuan ini adalah tujuan objektif saja artinya tujuan dari program studi yang tersedia. Untuk mewujudkan tujuan objektif tersebut mahasiswa harus mempunyai motivasi. Misalnya motivasi untuk memilih suatu program. Tapi untuk memilih program studi biasanya merupakan buah hasil suatu proses cukup kompleks di mana banyak faktor berperan (keuangan, lokasi, keadaan keluarga, dan lain-lain). Pilihan tersebut harus sepenuhnya dipikirkan dan kemudian diterima oleh mahasiswa itu sendiri. Dalam zaman modern sekarang ini tidak boleh terjadi lagi bahwa pilihan itu secara eksklusif dilakukan oleh orang tua. Misalnya kita masuk fakultas Psikologi hanya karena kemauan orang tua sedangkan kita sendiri lebih berminta pada teknologi informasi, ini akan sulit berhasil karena motivasinya tidak sepenuh hati. Kalau karena desakan orang tua atau karena alasan lain anda ternyata salah memilih program studi, sebaiknya kita mengurus pindah program studi selama tahun pertama di perguruan tinggi, supaya ketidak cocokan itu tidak sampai berkepanjangan.

Setelah tujuan objektif kita ketahui, maka selanjutnya kita harus mengetahui tujuan subjektif juga, yaitu tujuan pribadi kita sebagai mahasiswa. Misalnya tujuan tersebut adalah menyelesaikan suatu program studi dan dengan demikian memperoleh keahlian yang memungkinkan kita untuk terjun dalam lapangan professional. Kita belajar diperguruan tinggi untuk mendapat bekal yang membuat kita Qualified, guna bisa ikut serta dalam dunia kerja.

Perlu diingat, perbedaan pendidikan di perguruan tinggi dengan tingkat pendidikan sebelumnya adalah bahwa pendidikan diperguruan tinggi sangat spesifik karena mempersiapkan suatu keahlian tertentu. Dan di perguruan tinggi mahasiswa harus siap untuk belajar mandiri. Materi yang diberikan dosan hanya ditunjukkan menurut garis besarnya saja. Jika mahasiswa tidak belajar sendiri ia tidak akan berhasil. Sedangkan pendidikan sejak sekolah dasar jauh lebih umum sifatnya. Hanya pada SMA dua tahun terakhir mulai spesifikasi. Ketika masih di SMA apalagi tahap-tahap sebelumnya program belajar dipersiapkan secara mendetail . Para siswa tinggal mengerjakan tugas satu demi satu.

Mahasiswa di ibaratkan seperti tukang kayu yang berusaha memasukan paku ke dalam balok. Satu kali pukulan saja tidak cukup agar paku masuk melainkan  harus disusul lagi oleh pukulan kedua dan ketiga dan seterusnya hingga paku tersebut masuk sepenuhnya. Dan sebaiknya waktu belajar mahasiswa dalam seminggu adalah 40-50 jam (termasuk jam kuliah hehehe). Tempat kuliah bukanlah teater drama,dimana mahasiswa hanya jadi penonton saja melainkan harus mencatat,mengerti dan memahami. Jika ingin serius dalam perkuliahan pilihlah kursi depan karena kursi-kursi didepan adalah tempat yang paling stategis untuk mendapatkan keseriusan.

REFERENSI:
Bartens k.2005.Metode Belajar untuk Mahasiswa.Jakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama